Kamis, 21 Mei 2026
Saksi Ahli dari Pihak Terdakwa Hadir dalam Sidang Dugaan Penggelapan YM
Efisiensi Anggaran MBG, Pemerintah Maksimalkan Dapur yang Sudah Berjalan
Nganjuk,- Pemerintah pusat mulai melakukan efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026. Dari sebelumnya Rp335 triliun, pagu anggaran kini dipangkas menjadi Rp268 triliun sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto agar penggunaan dana lebih efektif dan tepat sasaran.
Meski anggaran mengalami pengurangan, pelaksanaan program MBG dipastikan tetap berjalan. Fokus pemerintah saat ini diarahkan untuk memaksimalkan operasional dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah aktif melayani masyarakat.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, langkah efisiensi tersebut salah satunya dilakukan dengan menghentikan sementara pembangunan dapur MBG yang masih dalam proses pengerjaan. Selain itu, sejumlah dapur yang telah selesai dibangun namun belum beroperasi juga diwacanakan untuk dipending sementara waktu.
Kebijakan ini disebut sebagai upaya pemerintah agar anggaran yang tersedia lebih diprioritaskan pada dapur yang sudah berjalan, sehingga distribusi makanan bergizi kepada pelajar tetap optimal tanpa mengganggu efektivitas program.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan hingga 30 April 2026 realisasi anggaran MBG telah mencapai Rp75 triliun atau sekitar 22,4 persen dari total pagu sebelumnya. Dana tersebut telah menjangkau 61,96 juta penerima manfaat dengan dukungan 27.952 SPPG di berbagai daerah.
Menurut Purbaya, Presiden Prabowo Subianto saat ini juga tengah melakukan pembenahan manajemen program MBG, termasuk pola belanja Badan Gizi Nasional (BGN), agar pelaksanaan program tetap efektif meski dilakukan penghematan anggaran.
“Yang penting program pemberian makan untuk murid sekolah tetap berjalan dan tidak terganggu,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Mei 2026 di Jakarta.
Mengantar Keberangkatan 57 Bhante Menuju Candi Agung Borobudur, Bupati Nganjuk Lepaskan Merpati
Minggu, 17 Mei 2026
Perselisihan di Lingkungan SPPG Baron Berujung Pengaduan Ke Polsek Baron Nganjuk, Dugaan Kekerasan Jadi Sorotan
Kamis, 14 Mei 2026
NGANJUK PERKUAT POSISI LUMBUNG PANGAN, PANEN RAYA KEDELAI TNI AL 2026 JADI SIMBOL KEBANGKITAN PERTANIAN NASIONAL
Senin, 04 Mei 2026
SIDANG PERDANA KASUS DUGAAN PENGGELAPAN DI NGANJUK MEMANAS, TIM HUKUM AJUKAN PERLAWANAN
Rabu, 29 April 2026
Dari Roti hingga Nasi Minim Lauk, Menu MBG Tuai Keluhan
Nganjuk,- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nganjuk kembali menuai sorotan. Menu yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumber Kepuh 2, Kecamatan Tanjunganom, pada Selasa (28/4/2026), dinilai tidak memenuhi standar kelayakan, baik dari sisi porsi maupun kandungan gizi.
Berdasarkan dokumentasi yang beredar pada hari tersebut, menu yang disajikan tampak tidak proporsional. Dalam satu paket, terlihat hanya terdapat potongan roti tawar, telur ceplok berukuran kecil, beberapa butir kelengkeng, irisan mentimun dan selada, serta saus kemasan. Sementara pada paket lainnya, menu terdiri dari nasi putih dalam porsi terbatas, sepotong kecil lauk daging, dan satu irisan semangka, ketiadaan susu juga menjadi sorotan dalam hal ini
Jika mengacu pada prinsip gizi seimbang, komposisi tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan nutrisi harian. Porsi protein hewani yang minim serta keterbatasan variasi sayur dan buah berpotensi membuat asupan energi dan zat gizi tidak terpenuhi secara optimal, terutama bagi pelajar sebagai penerima manfaat utama program MBG.
Selain persoalan kualitas menu, aspek anggaran juga menjadi perhatian. Dengan alokasi dana MBG yang seharusnya mampu menghadirkan makanan bergizi dan layak konsumsi, kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait kesesuaian antara perencanaan dan realisasi di lapangan. Transparansi penggunaan anggaran serta pengawasan distribusi dinilai perlu diperkuat.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pihak mitra pelaksana juga telah menerima laporan terkait kondisi menu tersebut. Laporan ini menjadi dasar untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut terhadap proses penyediaan makanan, termasuk standar porsi dan kualitas bahan yang digunakan.
Sejumlah pihak menilai, evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di tingkat SPPG menjadi langkah mendesak. Hal ini penting agar program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya pelajar, tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat nyata di lapangan.








